Sabtu, 07 Desember 2013

" PASAR BEBAS YANG BERDAMPAK PADA PEREKONOMIAN "




 Nama : Valentine Queen Chintary
 Nim   : 2012210083
 Tugas : Mk. Komunikasi Politik

            John Filger, film documenter yang menceritakan tentang penguasa baru melahirkan globalisasi, politik, perekonomian yang memasuki pasar bebas, kapitalisme, liberalism, industrialisme. Era globalisasi yang telah dimulai bukan saja berpengaruh pada hubungan luar negeri bangsa ini, namun lebih dari itu, asumsi dasar perekonomian nasional juga sebenarnya telah semakin bergeser. 

Indonesia merupakan Negara yang kaya, terhadap SDA tetapi saat ini Negara ini menjadi Negara yang miskin terhadap SDA. Karena SDA yang melimpah selalu  dieksploitasi, sehingga banyak terjadi pengangguran di mana-mana, melihat kejadian seperti ini, menjadikan investor asing dengan mudahnya untuk menanamkan modal, mencari keuntungan, sehingga banyak buruh yang bekerja keras, lebih dari 24 jam, karena tidak memiliki pekerjaan, untuk menghidupi kebutuhan mereka. 

Indonesia selain di hadapkan oleh masalah ekonomi domestik yaitu bagaimana mendongkrak laju pertumbuhan, pengurangan angka kemiskinan dan penyerapan tenaga kerja juga telah berhadapan dengan konsekuensi menghadapi perdagangan global. Tentu masing masing Negara telah menyiapkan infrastruktur dan stratergi pasar masing masing, terutama dalam meraih keuntungan dari perdagangan tersebut. 

Negara yang memilki kesiapan lebih komprehensip, maka ialah yang akan mengusai pasar dan mampu meningkatkan nilai tambahnya, namun sebaliknya Negara yang yang belum atau tidak memiliki kesiapan yang memadai, maka ia tidak akan meraih keuntungan pasar yang signifikan. Kawasan  perdagangan bebas mulai luas diberlakukan. dalam pelaksanaannya mulai mengkhawatirkan para pengusaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia. Para pengusaha kecil dan menengah Indonesia khawatir akan ambruknya Industri domestik akibat serbuan barang-barang impor  produksi luar negeri yang menawarkan variatif harga yang lebih rendah.

Bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, liberalisasi perdagangan dapat menjadi Powerfull Tool bagi pengurangan kemiskinan masyarakat. Karena dengan dihilangkannya hambatan perdagangan, akan membuat  persaingan harga-harga barang yang sejenis (termasuk barang-barang import  yang harganya murah) akan lebih kompetitif. Sehingga Purchasing Power masyarakat semakin meningkat.

Disinilah peran strategi penjualan dan pemasaran dari para pengusaha kecil dan menengah, dituntut untuk bisa menciptakan inovasi-inovasi, dan mengefisiensi produksi agar harga jual produksinya bisa bersaing dengan produk-produk dari kompetitor lain, terutama kompetitor dari luar negeri 

Indonesia yang memiliki basis perekonomian kerakyatan, tentunya mengalami tantangan terhadap paham ekonomi liberal yang berasaskan kompetisi bebas dan bersifat individu maupun kelompok. Era perdagangan bebas yang menjadi salah satu senjata dari ekonomi liberal, saat ini telah ada di depan mata, dan Indonesia menjadi salah satu negara yang meratifikasinya. 

Dengan perdagangan bebas ini, maka dunia ketiga khususnya Indonesia, akan kebanjiran barang impor karena mudahnya barang luar negeri masuk ke pasar dalam negeri serta adanya peralihan impor dari yang tadinya ilegal menjadi legal. Maka dengan ini agenda pemberdayaan ekonomi rakyat akan semakin terpuruk akibat desakan kuat dari komoditas-komoditas asing. Akibatnya semakin banyaknya angka pengangguran dan akhirnya melumpuhkan perekonomian nasional.

Harapan kita sekarang hanyalah adanya kesiapan dan kemampuan secara mental, sistem sosial budaya, politik, serta ekonomi bangsa kita dalam menghadapi ancaman globalisme-kapitalistik ini. Sehingga tidak memudahkan pengintegrasian perekonomian Negara Indonesia ke dalam genggaman para pemodal negara-negara kaya.


Selasa, 25 Juni 2013

TUGAS 2 _ MK. ETIKA DAN FILSAFAT KEPEMIMPINAN




                  
NAMA : VALENTINE QUEEN CHINTARY
NIM      : 2012210083
NO HP  : +6285252606765

STEREOTIP DALAM ETIKA DAN FILSAFAT KEPEMIMPINAN

Pengertian Stereotip
Stereotip, adalah pemahaman yang terjebak pada anekdut (overgeneralisasi  dengan prasangka budaya) manusia menilai orang lain, atau sejenisnya.
Contoh:
1.       Mahasiswa dipersepsikan oleh orang awam adalah manusia yang cerdik pandai.
2.       Orang Solo dipersepsikan orang yang halus, lemah lembut.
3.       Orang Indonesia adalah orang yang ramah, sopan dan santun.
4.       Orang barat tidak sopan pakaian minim.
5.       Dst.

Tugas !:
Mengadopsi dari pendapat Immanuel Kant, pembahasan filsafat dinyatakan dalam 3 pertanyaan:
1.       Apakah yang dapat saya ketahui ?
2.       Apa yang harus saya lakukan ?
3.       Apa yang bias kita harapkan ?


JAWABAN :
1.      Yang dapat saya ketahui tentang contoh di atas hanyalah yang dipersepsi dengan panca indra Lain daripada itu merupakan “ilusi” saja, hanyalah ide..
2.      Yang dapat saya lakukan manusia harus bisa diangkat menjadi sebuah peraturan umum. Hal ini disebut dengan istilah “imperatif kategoris”. Contoh : orang sebaiknya jangan membunuh, sebab  apabila hal ini di angkat menjadi peraturan umum, maka apabila semua orang membunuh , masyarakat  tidak akan hidup.
3.      Yang bisa kita harapkan manusia ditentukan oleh akal budinya. Inilah yang memutuskan pengharapan manusia.


ETIKA DAN FILSAFAT KEPEMIMPINAN_TUGAS 1





NAMA : VALENTINE QUEEN CHINTARY
NIM     : 2012210083
NO HP : +6285252606765
Kebebasan dimana individu memiliki kemampuan untuk bertindak sesuai dengan keinginan, tetapi di dalam kebebasan juga memiliki norma dan etika.
Tanggung jawab adalah sifat terpuji yang mendasar dalam diri manusia, ataupun tanggung jawab merupakan kesadaran moral atas apa yang telah di perbuat atau di lakukan.
Hati Nurani adalah informasi yang disampaikan oleh jiwa manusia, atau kata hati yang keluar dari dalam perasaan seseorang yang kemudian akan di sampaikan melalui perkataan dan tingkah laku.
Persiapan diri saya sebagai administrator publik dalam kapasitas agent of change and development : dalam melaksanakan agent perubahan dan pembangunan yaitu berdasarkan analisis unsur2 tersebut dapat saya simpulkan sebagai administrator publik harus secara adil dan bijkasana dalam melayani publik, dan juga harus konsisten agar tepat sasaran sehingga tujuan sebagai agent of change and development dapat tercapai yang di landasi dengan kebebasan yang bertanggung jawab berdasarkan hati nurani yang mengarahkan ke masa depan.